SuamI Ideal Dambaan Muslimah

Posted on Agustus 11, 2008. Filed under: JELANG NIKAH |

Memberangus sudut pandang yang keliru, ternyata kerap kali mengharuskan kita berpontang-panting, memeras otak, untuk mencari solusi dari pelbagai problematika yang lahir akibat pandangan ngawur tersebut. Kalau upaya mencari kebahagiaan selalu dikait-kaitkan dengan limpahan materi, segala urusan akan diupayakan untuk membuahkan nilai materi berlimpah. Kalau adat istiadat jadi ‘junjungan’, segala kasus selalu saja harus ‘diadili’ di hadapan petuah-petuah ninik mamak, ketua adat atau ujar-ujar orang tua yang menjadi haditsnya kaum adat. Kalau moderenisasi yang jadi acuan, segala sikap, tindak tanduk dan konklusi yang diambil dalam setiap masalah, selalu saja dikeker tingkat peradabannya. Orang biasa-biasa aja bisa dianggap kampungan. Mau jujur, bisa dicap ketinggalan jaman. Salah satu cabang masalah yang seringkali menjadi korban adalah usaha mencari suami ideal. Suami ideal dalam kaca mata Islam, serta merta saja menjadi sangat tidak ideal, bila seabrek idealisme ikut nimbrung bicara.

Perbaiki Sudut Pandang

Akar masalahnya adalah dalam kerusuhan sudut pandang. Bila segala persoalan mau dibereskan, sudut pandang harus terlebih dahulu diislamkan, agar saat sudah bercabang-cabang, tidak akan membuat kericuhan.

Islam datang membawa reformasi total dalam sudut pandang kemanusiaan. Metodologi, sistematika, perundang-undangan dan tatanan etika yang diajarkan Islam, mengacu pada pada pembenahan dua substansi dasar manusia: Manusia sebagai manusia, dan manusia sebagai hamba.

Intinya, Islam ingin memperbaiki kwalitas kemanusiaan manusia, dan kwalitas kehambaan manusia. Oleh sebab itu, Allah kerap kali mengisyaratkan sosok nabi-Nya sebagai manusia.

Allah berfirman,

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia:”Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata):”Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Ali Imran : 79)

Allah berfirman,

Katakanlah:”Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku:”Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya..” (Al-Kahfi : 110)

‘Manusia,’ menjadi sapaan lembut untuk Rasul-Nya tersebut. Karena memang wahyu yang diturunkan kepadanya, berfungsi menyempurnakan jati diri kemanusiaannya, sehingga tercetak menjadi manusia sejati, dalam arti yang sesungguh-sungguhnya.

Allah berfirman,

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat…” (Al-Isra : 1)

Allah juga berfirman,

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar.” (Al-Baqarah : 23)

Sapaan ‘hamba’ adalah penghormatan bagi Rasulullah b. Karena tidak ada kedudukan yang lebih tinggi bagi seorang manusia, selain sebagai hamba Allah. Karena selain itu, ia akan diperhambakan kepada selain Allah, dan itu adalah kehinaan.

Nah, ketika kita sudah menyadari bahwa misi utama ajaran Islam adalah memanusiakan manusia dan memperhambakan manusia hanya kepada Penciptanya, maka seyogyanya segala pola pikir dan sudut pandang seorang muslim dan muslimah, dibangun di atas dua pondasi dasar tersebut.

Sosok Suami Ideal

Sosok ideal yang seyogyanya menjadi de jure dan de facto dalam alam hidup setiap muslimah sebenarnya amat sederhana, sesederhana alur kehidupan normal pada umumnya, sesuai dengan fithroh dan melekat kuat dengan akar kemauan setiap manusia. Soal sosok suami yang mempergauli istri secara baik, memberi nafkah sandang pangan secara layak, tidak suka menjelek-jelekkan dan menyudutkan istri dan memberi waktu bercengkrama kepada istri secara baik, kesemuanya adalah tuntutan wajar yang secara normal dapat dipahami oleh setiap orang, bahkan non muslimah sekalipun. Hanya masalahnya, siapakah sosok suami yang mampu menjadi sosok ideal seperti itu? Mampukah ajaran-ajaran selain Islam membentuk pribadi seperti itu, sekali lagi, secara de jure dan de facto secara bersamaan? Jawabannya, hanya Islam sebagai agama langit, agama Allah, yang mampu mewujudkannya. Tinggal, siapa yang mau, dan siapa yang tidak mau saja.

1. Hak Dipergauli Secara Baik

Allah berfirman,

Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (Al-Baqarah : 29)

Segala bentuk perundang-undangan positif buatan manusia di dunia ini, atau kitab-kitab yang dianggap suci oleh para penganut agama selain Islam, tidak pernah siap untuk memberikan perangkat dan piranti etika, keyakinan dan amalan praktis yang dapat membentuk sosok suami yang mempergauli istrinya dengan baik. Secara teori, dapat kita katakan, bahwa ukuran baik di sini bukanlah menurut manusia, tapi menurut Allah. Secara praktis, Islam telah memberikan gambaran utuh keindahan sikap seorang suami yang baik dan ideal, dalam fragmen-fragmen kehidupan Nabi b bersama para istri beliau. Bagaimana beliau memberi pengajaran, mempergauli istri-istrinya, memperlakukan mereka secara adil, menunjukkan amarahnya secara mendidik, menghadapi pelbagai fitnah dan cobaan dengan sebagian istrinya, dan pelbagai hal lain, yang dapat kita cermati dalam hadits-hadits sahih. Buku terbaik untuk menelaah itu di antaranya adalah ‘Isyratun Nisaa’, karya Imam At-Tirmidzi.

2. Mendapatkan Nafkah dan Sandang Secara Layak

Hal inipun berkaitan dengan kemampuan seorang lelaki mengekang kecendrungan dirinya bersikap lalim atau bertindak tanpa dasar ilmu dan pengetahuan yang benar. Pelbagai peringatan yang ada dalam hadits tentang ancaman bagi para suami yang lalim, hukuman dunia maupun akhirat yang bakal diterimanya, bisa menjadi lecutan agar seorang suami selalu mawas diri. Ketika Islam menganjurkan agar kita memberikan makanan dan pakaian kepada istri, sebatas yang layak kita nikmati sendiri, muncullah sebuah ikatan etika: Betapa tidak teganya makan di restoran dengan sedemikian lahapnya, sementara anak dan istri hanya menikmati sajian yang kelasnya sepersepuluh dari yang kita nikmati. Bila demikian, tak akan ada kesempatan seorang suami untuk berlalu lalim terhadap istri, juga terhadap anak-anaknya, dalam soal sandang pangan. Bila perlu, anak istri bisa berganti pakaian baru setahun dua atau tiga kali, sang suami cukup membeli pakaian baru, lima tahun sekali. Emm, itu akan lebih memikat.

3. Tidak Boleh Dijelek-jelekkan, Dianiaya dan Diisolir

Nabi b bersabda,

“.. Jangan sekali-kali memukul wajahnya, jangan menjelek-jelekkan, serta jangan memisahkan dirinya dengan kalian kecuali hanya di dalam rumah saja.” [1]

Baiklah. Soal menjelek-jelekkan pasangan, mungkin tidak lahir saat dunia rumah tangga sedang aman-aman saja. Namun saat badai pertikaian memuncak, apalagi sudah mulai melibatkan media ‘cerai’ sebagai senjata pamungkasnya, seringkali suami atau istri secara tega, membuka aib pasangannya selebar mata memandang. Maaf, bisa jadi masyarakat sepuluh kampung ikut menikmati sajian ‘Gossip suami-istri’ secara gratis. Dalam hal ini, ternyata juga hanya Islam yang memberi panduan lengkap untuk menekan seminimal mungkin, angka pelecehan, terutama dari seorang suami terhadap istrinya, atau bisa juga sebaliknya. Bila ingin lebih jelas, bisa baca buku tulisan kami, ‘Gelas-gelas Kaca.’ Kumpulan kiat untuk membentengi rumah tangga dari debur kiamat.

4. Hak Mendapatkan Kesempatan Bercengkraman dengan Suami

Rosulullah b bersabda yang artinya,

“Sesungguhnya istrimu memiliki hak atas dirimu, teman-temanmu memiliki hak atas dirimu, dan tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” [2]

Baiklah, adakah ajaran selain Islam yang memberikan petunjuk demikian praktis, agar seseorang tidak sedemikian mudah bersikap acuh tak acuh terhadap suaminya? Ingat, seorang ahli ibadahpun dikecam dalam Islam, kalau dia sampai menelantarkan sang istri. Tak ada gunanya genangan air mata di malam hari, di tengah kesunyian dengan setumpuk dzikir dan istighfar, selama ada kezhaliman merambati tubuh lemah istri terkasih. Ajaran Islam, sarat dengan muatan etika untuk mewujudkan kesejahteraan itu, bagi sang istri.

Siapakah Suamiku?

Baiklah sidang pembaca, kami tidak akan secara detail mengungkapkan pelbagai hukum terkait dengan adab mencari calon suami yang baik. Sudah banyak buku yang mengulas persoalan tersebut. Dan majalah kita inipun sudah kerap kali menyajikan pelbagai seluk beluk hukum seputar itu. Kami hanya ingin sedikit mengetuk urat kesadaran kita, sebenarnya, di manakah seorang muslimah bisa mendapatkan sosok suami ideal untuk dirinya? Hal itu sebenarnya berpulang kepada tiga elemen utama: Pertama, kepada kesiapan dirinya sendiri, untuk menerima kehadiran suami dengan seabrek karakter dan kriteria seperti disebut di atas? Karena, seorang wanita muslimah yang secara gairah iman dan greget kebiasaan tidak siap menerimanya, bisa jadi benturan diskriminasi etika, keyakinan dan sikap keseharian, akan terasa terlalu menghenyakkan. Tak selamanya, daging lezat akan terasa nikmat, terutama bagi yang sedang sariawan.

Kedua, orang tua. Alangkah banyaknya orang tua yang sedemikian tega mencekal hak prerogratif putri mereka, untuk menyosokkan suami ideal bagi dirinya. Ketidakmengertian terhadap ajaran agama, sering menjadi masalah utama. Kalau dalam kasus pertama, si muslimah yang tidak siap secara ilmu, dalam hal ini bisa jadi orang tuanya yang tidak siap. Belum lagi, bila wacana berpikir kedua orang tuanya, masih dijejali dengan pelbagai idealisme yang beragam, seperti disebutkan di awal tulisan ini. Mendapatkan sosok suami yang salih, baik dan ideal, kerap kali mendapatkan ribuan batu pengganjal, yang tidak jarang berakhir dengan kegagalan. Di sini, kedua orang tua menjadi pihak paling bertanggungjawab terhadap kepedihan yang dirasakan oleh putri mereka.

Ketiga, ini bukan dalam kapasitas kita mengaturnya, yaitu takdir. Betapapun hebatnya upaya seorang muslimah dan kedua orang tuanya untuk mencari sosok suami yang baik bagi dirinya, bagi putri mereka, terkadang Allah masih menguji mereka dengan kehadiran orang yang amat berbeda dengan sosok yang diharapkan. Upaya kurang optimal? Bisa jadi, tapi terkadang juga tidak. Bila itu sudah terjadi, maka harus disadari, bahwa Allah tengah menguji ketabahan kita. Tapi mungkin juga terselip sebuah hikmah yang unik: mungkin Allah menginginkan si muslimah dan kedua orang tuanya, untuk menjadi media pertaubatan bagi si suami. Alangkah nikmatnya, bila ternyata si suami menjadi yang terbaik, setelah berkubang dalam ‘kawah candradimuka’ metodologi wahyu yang mereka gelar dalam lakon-lakon keseharian mereka. ‘Bila Allah menetapkan hidayah bagi seseorang dengan perantaraan kita, itu lebih baik bagi kita daripada hewan ternak yang gemuk-gemuk dan menggemaskan…’ Wallahul musta’an.


[1] Sunan Abi Dawud dalam kitab An-Nikah, bab: Hak wanita atas suaminya, Hadits No.2142 dan hadits ini hasan. Lihat Jami’ul Ushul, dengan hasil penelitian Abdul Qadier Al-Arna-uth VI : 505.

[2] Diriwayatkan oleh Muslim II : 813. Oleh Al-Bukhari II : 694, oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya II : 19. Dan ini adalah lafal hadits Muslim.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Tentang Situs

    Situs ini diperuntukkan bagi Anda yang membutuhkan informasi tentang pernikahan dan pembinaan rumah tangga bahagia. artikel yang ada di situs ini adalah kumpulan dari berbagai situs. situs ini insyaallah cocok untuk Anda yang ingin menikah dan telah menikah. Semoga kehadiran kami bisa membantu dan bermanfaat bagi pembaca. Segala kritik dan saran membangun kami harapkan dari pembaca sekalian. Wallahu a'lam Contact Person: 0852 2840 2723
  • kalender kerja

    Agustus 2008
    S S R K J S M
    « Jul   Feb »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • BUKU PANDUAN NIKAH

    ‎ Pemesanan sms ke: 0852 2840 2723
  • Herbal Pasutri

    ‎ ‎ Pemesanan sms ke: 0852 2840 2723
  • Ucapan Nikah Dan Lahir

    Alhamdulillah telah lahir putri pertama dari Dimas Aditya Nugrah dan chery yuriza di RS.Pasar Rebo tanggala 080808 Bagi Yang Ingin Memberikan ucapan pernikahan dan kelahiran silahkan SMS ke: 0852 2840 2723

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: